Harga Cabe Merah Masih Tinggi, Disperindag Sebut Ini Salah Satu Penyebabnya

0
117

JAMBI – Harga cabe di Jambi saat ini masih tergolong tinggi, bahkan dipasaran naik hingga Rp. 14.000 Perkilogramnya.

Dilihat dari pasar tradisional dalam Kota Jambi menunjukan, harga cabe merah naik Rp 14.000 perkilogramnya, dari yang harga Rp 56 ribu menjadi Rp. 70 perkilo.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi, Ariansyah saat dikonfirmasi awak media, Selasa (16/7/19).

Ia mengatakan mahalnya harga cabe tersebut, salah satunya disebabkan oleh musim kemarau atau kekeringan.

Lebih lanjut, Ariansyah menyampaikan bahwa selain menimbulkan efek harga, tidak Musim kemarau juga mempengaruhi hasil produksi ditingkat petani cabe.

“Saat ini harga cabe ditingkat petani masih tinggi, tadi malam harga cabe mencapai Rp 54 ribu sampai Rp 56 ribu perkilonya. Kemudian margin antar, dan sebagainya pagi ini mencapai Rp 68 ribu sampai Rp 70 ribu,” kata Ariansyah.

Selain itu, Kadisperindag juga menyampaikan bahwa di Provinsi Jambi memasok pasokan cabe dari luar daerah, seperti Pulau Jawa Tengah, seperti Mutilang, Magelang, Purworejo, Wates dan sebagainya.

“Kita anggap ini bukan masalah di rantai dagang, kalau permasalahan di rantai dagang kita bisa masuk di rantai perdagangan, dimana titik yang bisa menaikkan harga. Tetapi masalahnya suplaynya yang kurang,” jelasnya.

Dirinya menjelaskan, bahwa kebutuhan cabe di Provinsi Jambi mencapai 30 ton perhari, sementara pemasokannya yang masuk hanya berkisar di 6 ton perharinya.

Oleh karena itu, dalam mengatasi melonjaknya harga cabe tersebut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait, apakah bisa langsung beli di petani dan lakukan Operasi Pasar, baru dijual ke masyarakat.

“Kita putus rantai distribusi, kita mulai dengan cabe lokal, dan cabe lokal sedang dicari dan ternyata harganya juga sama mahalnya sama di Jawa, Harganya 50 perkilo. Artinya harga cabe ditingkat petani memang masih tinggi,” tandasnya.

(Nrs)