Direktur Relawan Jokowi Jambi Nilai Prabowo Lebih Baik Oposisi

0
204

JAMBI – Jagat media sosial dipenuhi pemberitaan dan foto maupun video pertemuan Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dengan pertemuan 2 pemimpin ini, rekonsiliasi seharusnya dapat cepat berlangsung.

Hal ini dikatakan Djokas Djo, Direktur Relawan TKD Jokowi-Ma’ruf Provinsi Jambi pada Dinamikajambi.com, Sabtu (13/07/2019). Bilangnya, terbelahnya masyarakat oleh pilihan politik, kini dapat bersatu kembali.

“Kita happy-happy aja. Sebenarnya di kalangan bawah, masih dikotomilah ya dengan 2 ini. Dengan pilpres yang keras itu, sudah kadung termutilasi. Tapi sampai disini, sebenarnya sudah mereda. Dengan ketemunya 2 pemimpin ini, harusnya cepat, proses pemulihan,” bilang Djokas.

Hasil pilpres sendiri, bilangnya tidak terlalu berlebih-lebihan misalkan soal euforia. Dimana jelas beda antara dunia nyata dan saat di media sosial.

“Karena di dunia Maya, mereka tidak berhadapan muka dengan teman-temannya, mereka melakukan seenaknya. Sampai ngata-ngatain. Kalau di dunia nyata, sudah lebih bersahabat,” katanya.

Dengan bersatunya para pemimpin ini, Djokas bilang, pemerintahan bisa lebih fokus lagi untuk program pembangunan, program yang sejahterakan rakyat.

Menariknya, aktivis Jambi ini lebih berharap Jokowi dan kabinetnya mendorong pemerintah daerah dalam menunaikan program nasional terutama pertanian.

“Misalkan bupati-bupati ini. Juga para kadis-kadis. Ini kadis banyak yang sibuk yang bukan tupoksi pekerjaannya. Itu soal karet, kopi, pinang, kopra. Banyak yang bisa dikerjakan,” katanya.

Disinggung dengan posisi Prabowo Subianto dan kawan-kawan yang belakangan mulai merapat satu-persatu ke petahana, Djokas menilai pembangunan Indonesia tidak hanya dalam koalisi.

“Membangun Indonesia itu tidak hanya harus menjadi bagian koalisi. Mungkin bisa jadi lebih efektif menjadi oposisi, lebih terhormat, bisa mengambil keuntungan 2024,” kata Djokas.

Dengan menjadi oposisi, Prabowo dapat mengkritisi program pemerintah. Jika konsisten menjadi oposisi, hal ini bisa menjadi modal untuk perhelatan Pilpres 2024.

“Dan pemerintahan Jokowi juga, saya rasa akan lebih sehat dengan adanya oposisi yang berimbang,” paparnya.

Selain itu, berada dalam koalisi juga akan lebih rebut-rebutan, lebih banyak makan energi, dibandingkan kerja. Jangan sampai dalam koalisi terjadi kegaduhan. Hingga akhirnya, program kerja untuk rakyat terbengkalai. (Erw)