Forbes Sebut 3 Faktor Ini Sulap Indonesia Jadi Macan Asia

0
167

EKONOMI – Pertumbuhan ekonomi digital yang pesat diyakini dapat membuat Indonesia menjadi macan Asia.

Hal itu disampaikan Elad Natanson, kontributor Forbes dan salah satu pendiri platform distribusi dan monetisasi aplikasi Appnext. Dalam artikelnya di Forbes, yang dikutip Bisnis, Minggu (26/5/2019), dia mengatakan dalam beberapa dekade terakhir, Hong Kong, Singapura, Korea Selatan (Korsel), dan Taiwan sudah menjelma menjadi macan di Asia.

Negara-negara itu mendapat sokongan dari perkembangan industri, perdagangan, dan finansial yang pesat. Bahkan, Hong Kong dan Singapura berhasil menjadi dua hubfinansial dunia sedangkan Korsel dan Taiwan unggul di bidang industri.

Dalam kasus Indonesia, ekonomi digital diproyeksi mampu menyulap negara ini untuk sejajar dengan empat negara tadi. Apalagi, Indonesia sudah punya beberapa unicorn, seperti Tokopedia, Traveloka, dan Go-Jek.

Menurut Natanson, ada beberapa faktor yang bisa mendukung pertumbuhan Indonesia.

Pertama, usia penduduk Indonesia relatif muda, dengan rata-rata usia 29 tahun. Ditambah lagi, sebanyak 60 persen populasi berusia di bawah 40 tahun.

Kedua, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Saat ini, ada 150 juta pengguna internet dan 95 persen di antaranya, setara dengan 142 juta orang, menggunakan internet lewat ponsel.

Ketiga, sebanyak 60 persen penduduk dewasa di Indonesia memiliki smartphone.

“Penduduk Indonesia menghabiskan 206 menit sehari di media sosial, dibandingkan dengan rata-rata global yang sebesar 124 menit. Platform utama seperti Youtube, Whatsapp, dan Facebook digunakan oleh lebih dari 80 persen warga yang online,” sebutnya.

Hal ini membuat penduduk Indonesia menjadi sangat dekat dengan digital.

Terlebih lagi, sebanyak 76 persen pengguna internet di Indonesia melakukan transaksi pembelian menggunakan ponsel. Ini adalah angka tertinggi transaksi e-commerce di seluruh dunia.

Tak hanya e-commerce, gim online, iklan, layanan musik dan video berlangganan, layanan online travel, serta ride-hailing dan pengantaran makanan menambah besar potensi yang ada.

Natanson mengutip laporan Google dan Temasek yang dirlis tahun lalu, yang menyatakan bahwa “kepulauan digital” Indonesia menyasar semua sektor.

“Dengan didukung oleh jumlah pengguna internet terbesar di kawasan (150 juta pengguna pada 2018), Indonesia mempunyai ekonomi internet terbesar (US$27 miliar pada 2018) dan yang paling cepat tumbuh (49 persen CAGR 2015-2018). Dengan ruang yang besar di semua sektor, ekonomi digital bisa tumbuh menjadi US$100 miliar pada 2025, mencakup US$4 dari setiap transaksi sebesar US$10 di kawasan,” demikian papar laporan tersebut.

Natanson juga mengutip laporan salah satu perusahaan modal ventura yang mengatakan bahwa kesempatan berinvestasi di Indonesia sekarang bisa disamakan dengan kondisi di China pada 2008. Dalam 4 tahun terakhir, sudah ada dana sebesar US$6 miliar yang masuk untuk investasi di ekonomi digital Indonesia.

Namun, tetap saja ada tantangan yang harus dihadapi. Menurutnya, sama seperti India, infrastruktur di Indonesia masih belum mencukupi.

“Meski tarif data sangat murah, tapi bandwidth-nya rendah sekali: rata-rata kecepatan unduh di ponsel sekitar 10 mbps, kurang dari separuh rata-rata global,” ucap Natanson.

Selain itu, walaupun jumlah smartphone terus bertambah, tapi ponsel yang murah tak punya penyimpanan data yang besar. Jadi, pengguna harus memilih aplikasi apa yang akan digunakan.

Tantangan terbesar yang disinggung Natanson adalah pembayaran dan e-money. Meski e-commerce Indonesia diproyeksi bakal mencapai US$53 miliar pada 2025, tapi jumlah penduduk yang memiliki akses ke bank (bankable) masih terbatas.

Kurang dari separuh penduduk Indonesia, yang lebih dari 250 juta jiwa, yang sudah mempunyai rekening bank. Sementara itu, 56 persen penduduk Indonesia tinggal di kota-kota besar dan terus meningkatkan ketergantungan terhadap gawai.

Lantaran bank masih bergantung pada kantor fisik untuk mendapatkan nasabah, maka disparitas ini menjadi masalah.

Meski demikian, hal ini mulai dijembatani oleh perusahaan rintisan financial technology (fintech) yang terus masuk. Layanan Go-Pay dari Go-Jek disebut menjadi pemimpin dalam meningkatkan inklusi finansial.

Di sisi lain, Natanson menyampaikan beberapa hal yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih besar bagi para pengembang aplikasi dan pelaku pemasaran. Pertama, video adalah format yang sangat dominan dan dapat menarik calon pelanggan atau pengguna aplikasi dan brand.

Kedua, berikan perhatian lebih besar kepada perempuan dan kebutuhan serta keinginan mereka. Salah satu alasannya, perempuan dipandang sadar tren.

“Laporan Google yang lain menunjukkan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab atas sebagian besar keputusan finansial rumah tangga dan karenanya menjadi target yang bagus untuk layanan e-money,” terangnya.

Secara keseluruhan, lanjut Natanson, salah satu cara untuk memandang peluang di sisi aplikasi mobile di Indonesia adalah meningkatkan value (nilai) di platform yang dikembangkan. Dengan makin besarnya uang dan waktu yang dihabiskan generasi muda Indonesia di smartphone mereka, dia menilai makin tinggi pula nilai yang bisa diraih dengan mengkurasi hal-hal yang mereka butuh dan sukai.

Sumber : Bisnis.com