Tak Diekspor Lagi, CPO Direncakan Akan Diubah Menjadi Produk Turunan

Berita Bisnis Berita Daerah

JAMBI – Terkait sistem dagang uni eropa yang sudah lakukan rancangan Delegated Regulation beberapa lalu, dimana Komisi Eropa memutuskan untuk mengklasifikasikan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oils/CPO) sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi.

Jika rancangan tersebut disetujui Parlemen, maka Komisi Eropa akan memiliki dasar hukum untuk menjegal masuknya CPO ke Benua Biru tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi, Ariansyah sebut nantinya CPO tidak lagi di ekspor, akan tetapi akan diupayakan menjadi Biodiesel.

Itu artinya, CPO tidak perlu lagi diekspor, tetapi akan dijadikan energi baru bagi industri turunan oleh Pemerintah Pusat (Pempus). Seperti sabun, motor dan sebagainya.

“Itu black campaign, dengan alasan merusak hutan atau lingkungan katanya. Tapi Pempus berupaya diversifikasi CPO menjadi biodisel, sehingga tidak perlu diekspor, tetapi menjadi energy terbaru bagi industri. Selain program hilirisasi, menjadi produk turunan seperti sabun, migor, dan sebagainya.” kata Ariansyah saat dikonfirmasi Dinamikajambi.com, Sabtu (25/5/19).

Jadi apakah CPO tidak akan di Ekspor lagi ? Kadisperindag itu menyampaikan itu baru direncanakan tidak, namun saat ini sedang dikaji.

“Rencana seperti itu, sekarang sedang dikaji.” ujarnya.

Selanjutnya, ia juga mengatakan bahwa apabila CPO tidak lagi diekspor, dan dijadikan sebuah industri tahunan, maka hal itu secara otomatis akan berdampak terhadap gejolak harganya.

“Otomatis harga akan bersaing, karena dari bahan baku menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai tambah.” jelasnya.

Oleh karena itu, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Koordinasi Satgas Pangan Jambi itu berharap kedepannya banyak lagi investor yang masuk ke Jambi, sehingga nantinya tidak lagi ekspor bahan mentah, akan tetapi sudah barang jadi.

“Kita pingin banyak investor yang masuk ke jambi untuk menginvestasi, membangun industri berupa pabrik-pabrik, sehingga kedepan perlahan kita tidak ekspor bahan mentah, tetapi sudah bahan jadi. Bukan lagi komoditas, tetapi sudah berupa produk yang mempunyai nilai tambah ekonomi, yang mendorong pertumbuhan ekonomi.” pungkasnya.

(Nrs)