Diari Budak Dusun Sambut Ramadhan

0
273

DIARI BUDAK DUSUN SAMBUT RAMADHAN

Oleh: Bahren Nurdin

SAYA budak dusun. Anak kampung yang berada pada ‘shifting time’ (masa perahilan). Istilah ini saya buat-buat saja untuk menjelaskan bahwa saya hidup di dua masa; gelap dan terang.

Masa gelap yang saya maksud adalah zaman dimana listrik belum masuk kampung saya, dan masa terang adalah ketika tiang PLN mulai dipancangkan dan bohlam mulai bergelantungan. Saya menjadikan listrik sebagai penanda perubahan di dusun kami karena listriklah yang telah mengubah pola dan gaya hidup masyarakat.

Inilah catatan budak dusun menelusuri kisah-kisah ramadhan dalam ingatan masa lalu. Belum terlalu lama, namun cukup usang untuk dikenang. Saya tarik waktu medio tahun 1970 ke 1990. Saya lahir di tahun 1979 namun masih mendapatkan cerita-cerita ramadhan dari para tetua. Saya awali diari ini dengan menyaksikan apa yang terjadi ketika saya lahir. Kisahnya saya gambarkan melalui puisi berikut ini:

Catatan Pinggir Ketika Aku Lahir

Hari itu 30 Desember 1979
Entah karena kurang bulan atau tak cukup gizi
Bayi kerdil lahir mendekati mati
tidak ada inkubasi untuk panasi bumi
yang ada hanya botol air asam berisi air suam
derita bunda berakhir bahagaia
walau cemas dan curiga, nyawa si sulung kembali pada-Nya

Tangis bayi itu pecah hingga ujung dusun
melalui lambaian niur menembus dinding pelupuh nan rapuh
memanggil ibu-ibu dusun tuk membawa sabun cuci dan minyak tanah
bersama doa di dalam asa,
semoga panjang umur wahai si kecil, kerdil

Senyum bunda berharap jua
bayi kecilnya kan mengukir dunia
terbang menembus mega dan membelah samudera
melintasi tapal batas bangsa dan negara
hingga berakhir di syurga, bersama bunda

bayi itu kini menulis
catatan pinggir ketika ia lahir bersama butir-butir sejarah
menyingkap suasana saat ia melihat dunia pertama
menyatukan masa yang membentang tiga dasa warsa.
Yang masih tercatat di lembar-lembar warta.

Aku, ia memanggil dirinya.
Saat itu, ia menyebut masa sewaktu ia dilahirkan.

Dusunku sama saja dengan Jakarta waktu itu
Ibu-ibu mencari kutu berjejer satu persatu
Bagai gerbong kereta api menjuju hulu
Sambil menetekkan bayi-bayi mereka tampa ragu
Tidak malu membuka susu di tengah umu.

Ibu-ibu tidak cerita politik
Karena politik tidak membuat perut kenyang
Politik hanya menggelitik bagi orang-orang yang suka panik
Memekik kadang mencekik
PDI pecah, PNI BARU mucul
Pecah rujuk pecah rujuk pecah rujuk
Celoteh politisi yang tidak ditemukan di kampungku

Cerita Afganistan entah indah entah petaka
Bersama lahirku ia tetap terbaca
Bersama sandiwara dan ranjau Komboja
Presiden digulingkan dan dibunuh soal biasa
Raknyat Komboja dan Afganistan meringkik jua
Entah siapa penjajah entah siapa patriot
Karena aku belum bisa membuka mata

1979: Kenangan, mungkin renungan
Teman-taman ayahku tiba-tiba unjuk rasa
Menhadap penguasa di gedung raya
Menutut hak, menuntut tanah
Gelombang protes petani penanda zaman yang mulai lali

Cerita zaman, cerita aku lahir
Video kaset baru mulai dipakai
Film jorok pun mulai masuk kamar, walau masih mahal
Karena di Lombok Pohon Turi masih berdaun
Menanti penanda kelaparan menyerbu datang
Bocah-bocah kecil tak berbaju menjadi santapan kamera pencari berita
Dijual, terkadang diperkosa, ditenjangi, dipermalukan.

Lima hari sebelum aku bisa menghirup udara
Bumi sumatera dilanda gempa
Lima belas nyawa ikut serta
Diiringi segera orang-orang yang terluka

Pulau Buru nan jauh di sana
Kehilangan pujangga pencari makna
Blora berbangga kembali bersua maha putera
Menyambut bebasnya Pramoedya
Mungkinkah aku terlahir bagian dari kata
Akulah ”anak semua bangasa”

Catatan ini aku akhiri bersama waktu yang terus berlari
Membawa aku kian kemari, hingga detik ini
Catatan ini mungkin tak berarti
Namun aku telah memberi bukti pada bumi dan ummi
Karana aku tahu aku telah terlahir bersama catatan ini.

Pada masanya, kehidupan masyarakat kampung saya memang begitu sederhana dan bersahaja. Belum tersentuh kemajuan teknologi dan ’dunia luar’. Semua berjalan dengan aturan-aturan adat dan ’eco’ pakai yang ada. Sistem kekerabatan yang kuat. Ikatan persaudaraan yang sangat erat. Mereka memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan berpegang teguh pada Seloko adat;

Tudung menyudung bak daun sirih
Jahit menjahit bak daun petai
Hati gajah samo dilapah
Hati tungau samo dicecah
Ado samo dimakan
Idak ato samo dicari

Makna dari seloko tersebut adalah adanya rasa senasib sepenanggungan. Semua saling melindungi, saling memberi dan saling berbagi. Hal ini semakin terasa pada saat menghadapi bulan suci Ramadhan. Kehidupan orang kampung saya sangat taat mejalankan perintah agama. Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang sangat ’sakral’ dan betul-betul menjadi bulan yang dinanti-nanti.

Sebulan sebelum masuknya bulan suci Ramadhan ’kehebohan’ sudah mulai terasa. Persiapan demi persiapan dilakukan. Pertama, persiapan logistik. Di masanya, orang kampung saya tidak pernah membeli beras. Anda akan dicap sebagai orang yang pemalas jika harus membeli beras. Mereka semua berladang atau apa yang kami sebut ’beumo’. Ladang ditanami padi dan bibit karet. Setelah pohon karetnya besar (menjadi kebun), maka ladangnya berpindah ke tempat lain. Itulah yang dikenal ladang berpindah-pindah.

Padi (gabah) yang dihasilkan minimal harus mencukupi kebutuhan selama satu tahun makan keluarga dengan patokan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Gabah juga tidak dijual. Betul-betul untuk mencukupi makan keluarga. Maka ladang yang mereka garap secara tradisional tersebut tidak begitu luas, antara satu sampai dua hektar. Alat-alat yang digunakan untuk membuka lahan masih sangat tradisional seperti beliung, gergaji, parang, dan sejenisnya. Semua masih menggunakan tenaga manusia. Bertahun-tahun mereka membuka lahan seperti ini tidak pernah terjadi bencana asap. Mereka sangat arif dalam mengelola hutan dan sumber daya alam lainnya. Sungai terjaga dan danau-danau damai bagi ikan-ikan.

Padi (gabah) hasil panen ladang ini biasanya disimpan di gudang penyimpanan khusus (kami menyebutnya ’gorut’) atau hanya di bahwa pondok yang terdapat di ladang tersebut. Gabah disimpan bersama tangkai padinya. Disusun sedemikian rupa sehingga butiran padi masih menyatu dengan tangkainya. Ketika hendak dimanfaatkan atau akan dijadikan beras, barulah diambil sesuai kebutuhan dan kemudian diproses secara tradisional pula.

Sebulan sebelum Ramadhan datang, masyarakat kampung biasanya berbondong-bondong menuju ladang masing-masing untuk melakukan proses ’membuat’ beras (menjadikan padi (gabah) hingga berubah menjadi beras). Tidak ada mesin perontok untuk memisahkan padi dari tanggkainya. Maka mereka melakukan proses yang disebut ’mengirik’. Gabah bersama tangkainya diletakkan di lantai dan kemudian dinjak-injak dengan teknik khsus sehingga butiran padi terpisah dari tangkainya.

Setelah di ’irik’ padi di ’tampi’. Menggundakan ’nyiru’ untuk memisahkan padi yang berisi dengan yang ’ampo’ (atau tidak ada isinya). Setelah itu dijemur di tengah terik matahari untuk beberapa saat sebelum kemudian di ’kisar’. ’Kisaran’ ini adalah alat tradisional yang terbuat dari kayu untuk memisahkan padi dengan kulitnya. Namun ’kisaran’ belum membuat padi benar-benar bersih. Kisaran masih menyisakan kulit ari padi. Maka selanjutnya padi ditumbuk menggunakan alu dan lesung. Barulah kemudian menghasilkan beras yang siap dimasak.

Proses ini memakan waktu untuk beberapa hari, dan tidak jarang dilakukan secara gotong royong atau saling membantu. Karena proses untuk mendapatkan beras ini sangat panjang dan memerlukan tenaga, maka tidak mungkin dilakukan saat bulan Ramadhan. Itulah makanya beras sudah harus disiapkan sebelum ramadhan datang. Jumlah beras yang disiapkan sudah disesuaikan dengan kebutuhan keluarga selama sebulan penuh.

Seperti halnya beras, kebutuhan-kebutuhan lain untuk dimasak nyaris tidak ada yang dibeli di pasar. Semua didapat dari hasil tani di ladang. Kebutuhan bumbu masak seperti cabai, kunyit, langkuas, jahe, serai, daun salam, dan sayur mayur dipetik dari kebun mereka sendiri. Ini pun sudah harus disiapkan jauh-jauh hari untuk menyambut Ramadhan. Rempah-rempah ini disiapkan sedemikian rupa sehingga ketika dibutuhkan pada saat Ramadhan tidak lagi perlu ke ladang. Jarak ladang cukup jauh dari perkampungan dan harus menyeberang sungai Batang Hari.

Begitu pula dengan kebutuhan lauk pauk seperti ikan. Karena sungai belum tercemar seperti saat ini, ikan sangat mudah didapat. Sungai-sungai atau danau-danau kecil di seputaran kampung selalu saja siap menyediakan pasokan ikan bagi masyarakat. Hanya dengan bermodalkan pancing atau jaring, ikan-ikan sudah bisa dibawa pulang sesuai kebutuhan. Tidak jarang pula, demi mempersiapkan Ramadhan, masyarakat jauh-jauh hari telah mencari ikan dengan jumlah yang banyak. Ikan-ikan diawetkan dengan cara dijemur di terik matahari (ikan kering) atau dikeringkan menggunakan asap, disebut ikan sale (salai).

Hanya beberapa kebutuhan saja yang harus dibeli di pasar seperti gula, teh, kopi, minyak tanah (untuk lampu), rokok dan lain-lain. Intinya, barang-barang yang mereka beli di pasar hanyalah kebutuhan yang tidak bisa ditanam atau diproduksi sendiri. Pasar juga tidak setiap hari, tapi seminggu sekali yang berada jauh dari kampung kami.

Kedua, tradisi memantai. Salah satu momen istimewa yang saya ingat dalam persiapan Ramadhan itu adalah peristiwa ‘memantai’ atau ‘mantai’. Ini adalah tradisi khas kampung kami dalam menyambut Ramadhan juga hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. ‘Memantai’ adalah kegiatan menyembelih kerbau atau sapi yang dagingnya dimasak untuk makan sahur dan berbuka pertama. Hewan yang disembelih dibeli dari uang patungan (iuran) seluruh masyarakat kampung. Semua dibagi rata.

Hari memantai dilaksanakan tepat sehari sebelum puasa. Proses memantai dilakukan secara gotong royong. Hewan sembelihan dikerjakan secara bersama-sama dan tidak ada yang beraktivitas di ladang atau di kebun hari itu. Bahkan, hari memantai ini dinobatkan sebagai hari ‘keramat’. Pesan orang tua biasanya berbunyi “Jangan bepergian hari ini, orang mantai. Bisa celaka”.

Masing-masing anggota keluarga berbagi tugas. Para pria bersama-sama mengolah hewan sembelihan, dari menyembelih hingga membagi rata kepada warga. Proses ini bisa berlangsung setengah hari. Para wanita (ibu-ibu dan anak perempuan) menyiapkan bumbu dapur olahan daging yang segera datang. Pada hari ini pula anak-anak kecil bersuka ria. Bergembira menyambut tamu agung bernama Ramadhan.

Lagi-lagi, melalui proses memantai ini pula tergambar betapa kekerabatan dan kekeluargaan terbina dengan baik. Strata sosial seakan menghilang begitu saja. Miskin atau kaya, lauk nasi mereka sama yaitu daging.

Bukan daging sembelihannya yang istimewa sebenarnya, tapi nilai-nilai kearifan lokal yang tertanam di dalamnyalah menjadikan kegiatan ini penuh makna. Jika pun tidak ada daging sembelihan seperti ini, sebenarnya masyarakat juga masih bisa memakan daging yang didapat dari binatang buruan seperti rusa, kijang, kancil, napuh, landak, dan lain sebagainya. Hutan masih sangat terjaga dengan baik sehingga binatang-binatang buruan ini masih terjaga dengan baik. Hanya dengan memasang ‘jorat’ (perangkap) minimal sebulan sekali mereka bisa merasakan masakan daging. Mereka sangat arif dalam menjaga keseimbangan alam. Mereka tidak pernah mengambil melebihi dari apa yang mereka butuhkan. Hanya keserakahan zamanlah yang kemudian membuat alam musnah dan punah!

Akhirnya, kedatangan Ramadhan di kampung kami betul-betul menjadi tamu agung nan istimewa. Mengapa semua persiapan itu harus dilakukan? Karena mereka memang ingin betul-betul fokus beribadah selama Ramadhan. Selama Ramadhan mereka mengurangi kerja-kerja berat agar pada malam harinya bisa berlama-lama di masjid untuk tarawih dan membaca Al-Quran. Marhaban ya Ramadhan.

*Akademisi UIN STS Jambi

Catatan:
Artikel ini sudah pernah dimuat diberbagai media baik cetak maupun online secara bersambung.