Sehatkah Wanita Hamil Berpuasa.. ?

0
381

MARHABAN Ya Ramadhan….Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangsebelum kamu, agar kamu bertaqwa (Al-Baqarah: 183)

Puasa diartikan sebagai ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala hal yang membatalkannya, dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Dalam agama Islam, dikenal dua jenis puasa, yaitu puasa wajib (puasa Ramadhan) dan puasa sunnah (misal puasa Senin Kamis). Puasa yang dimaksud dalam tulisan ini adalah puasa Ramadhan.

Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi seluruh pemeluk agama Islam, akil baligh, dan sehat. Pengalaman berpuasa, mengajarkan setiap muslim kedisiplinan, pengendalian diri, dan mendidik kepedulian pada mereka yang tidak mampu. Selama puasa Ramadhan, mayoritas umat muslim akan memiliki dua waktu makan, yakni segera saat tenggelamnya matahari yang ditandai dengan masuknya waktu sholat maghrib (dikenal dengan istilah ifthar atau berbuka puasa) dan makan saat sebelum fajar terbit (dikenal dengan istilah sahur), sehingga lamanya waktu berpuasa adalah berkisar antara 11 jam hingga 18 jam setiap harinya.

Mereka yang menjalani puasa Ramadhan, sejatinya tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga menjaga pikiran dan seluruh panca indranya dari perbuatan yang dapat mengurangi amalan puasa. Oleh sebab itu, perubahan fisiologis pada mereka yang menjalani puasa Ramadhan dapat berbeda dari mereka yang tidak berpuasa. Sejatinya, puasa tidak dimaksudkan untuk menyulitkan dan mencelakakan individu muslim.

Secara tegas, dalam Al-Quran dijelaskan bahwa berpuasa tidak diwajibkan pada anak-anak, perempuan dalam masa menstruasi, orang sakit, orang yang dalam perjalanan, perempuan hamil dan menyusui. Meskipun wajib, puasa memiliki rukhsah (keringanan) yakni dapat dibatalkan misalnya pada kondisi-kondisi yang dapat membahayakan keselamatan jiwa atau kesehatan jika puasa diteruskan.

Ibu hamil adalah satu di antara beberapa pihak yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan. Puasa harus diganti di bulan lainnya dan/atau diganti dengan membayar fidyah. Itu dari sisi fiqih. Bagaimana jika dilihat dari sisi kesehatan apakah puasa aman bagi ibu dan bayi saat sang ibu sedang hamil?

Ketika berpuasa terjadi penurunan kadar glukosa, insulin, laktat dan karnitin yang bermakna dan peningkatan kadar trigliserida dan hidroksi butirat pada wanita hamil yang menjalani puasa Ramadhan. Pada wanita hamil yang berpuasa dalam kondisi sehat, tidak ditemukan pengaruh puasa Ramadhan terhadap pertumbuhan intrauterin, volume cairan amnion, dan sirkulasi fetomaternal. Puasa Ramadhan juga tidak menyebabkan ketonemia atau ketonuria pada wanita hamil. Tidak ditemukan perbedaan perkembangan fisik dan intelektual pada anak usia 4 hingga 13 tahun dari ibu yang menjalani puasa Ramadhan selama hamil dibandingkan ibu yang tidak menjalani puasa.

Jadi puasa aman bagi ibu hamil selama berat badan yang bersangkutan dalam keadaan stabil dan tidak mengalami gangguan fisik. Tak usah khawatir. Sebab selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai macam adaptasi dalam rangka menyesuaikan diri dengan kondisinya.

Salah satunya adalah penelitian Alwasel dari Universitas King Saud Arab Saudi pada 2010, tentang perubahan plasenta pada ibu hamil. Penelitian itu menunjukkan terjadinya penurunan berat plasenta ibu hamil yang sedang berpuasa pada trimester kedua dan ketiga masa kehamilan. Namun, hal ini tak memengaruhi berat lahir bayi dan kondisi kesehatan bayi secara umum. Berbeda dengan perubahan plasenta dari ibu yang menderita penyakit kronis.

Puasa justru membuat ibu hamil lebih tenang sebab tekanan darahnya lebih stabil. Bayi dalam kandungan, juga lebih tenang, tak mengalami banyak kontraksi, gerakannya lebih lembut, dan sang ibu akan mengalami persalinan yang lebih mudah. Meski diperbolehkan, sejumlah ahli kesehatan menekankan bahwa kuncinya adalah kembali ke ibu hamil sendiri. Jika merasa sanggup, lanjutkan. Sementara jika tidak, sebaiknya tak usah memaksanya. Selain perlu berkonsultasi dengan pasangan dan keluarga, ibu hamil juga perlu untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Sebab, ada kalanya seorang perempuan yang merasa baik-baik saja ternyata menyimpan potensi penyakit yang akan membahayakannya jika berpuasa selama hamil.

Puasa Ramadhan sebulan penuh merupakan kewajiban bagi seluruh muslim dewasa dan sehat, termasuk wanita hamil. Banyak penelitian di seluruh dunia mengkaji hubungan puasa Ramadhan dengan implikasi kesehatan. Di Indonesia belum banyak penelitian yang mengkaji puasa Ramadhan dan aspek-aspek medis dan keperawatan, terkait. Dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas di negara-negara muslim diharapkan lebih dapat mengenali perubahan-perubahan fisiologis selama Ramadhan dan pengaruh puasa Ramadhan pada beberapa perubahan fisiologis ibu hamil yang kerap dijumpai dalam praktik sehari-hari.

Selamat berpuasa, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.
Semoga bermanfaat.
Wassalam.(Red).

Oleh:

Hj. Muryani, S. Kep
(Mahasiswa Program Profesi Ners, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin)