Keroyok Siswi SMP, Geng Cewek SMA Ini Tusuk Alat Vital Korban Pakai Jari

0
1913

PONTIANAK – Geng cewek SMA keroyok siswi SMP di Pontianak mendapat sorotan dari berbagai kalangan, tak terkecuali Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan, seluruh Dewan Komisioner Komnas PA sangat menyayangkan dan prihatin terhadap peristiwa penganiayaan, perundungan juga persekusi yang dilakukan 12 cewek SMA terhadap seorang siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Peristiwa yang terjadi pada 29 Maret 2019 itu menyebabkan korban berinisial AU (14) trauma dan depresi berat. Korban saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Korban dikeroyok geng cewek SMA di Jalan Sulawesi. Kepala korban dipukul dan dibenturkan ke aspal. Bahkan, perut korban juga diinjak hingga muntah-muntah.

Tak hanya itu, pelaku juga dikabarkan merusak alat vital korban. Pelaku mencolok alat vital korban dengan jari agar korban tidak perawan lagi.

Arist Merdeka mengatakan, penganiyaan, perundungan, persekusi dan kekerasan seksual yang dikakukan 12 geng siswi SMA ini tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat manusia.

Dikatakan Arist, mengingat pelaku masih dalam status usia anak dan dalam perspektif perlindungan anak masih memerlukan perlindungan, maka Komnas PA mendorong penegak hukum yang menangani perkara ini menggunakan pendekatan keadilan restoratif dalam proses penyelesaiannya.

Arist menambahkan bahwa dengan pendekatan keadilan restoratif tersebut selain meminta pertangungjawaban hukum para pelaku atas tindakan pidananya, pihak kepolisian Polresra Pontianak juga bisa menggunakan pendekatan “diversi” terhadap pelaku.

Pelaku bisa diberikan sanksi tindakan seperti saksi sosial guna memulihkan harkat dan harga diri korban yang telah dilecehkan dan berdampak efek jera.

“Misalnya dengan cara para pelaku meminta maaf secara terbuka kepada korban di hadapan orangtua dan penegak hukum atau minta maaf dengan mencium kaki korban,” kata Arist kepada wartawan di bilangan Pasar Rebo Jakarta Timur Rabu (10/4).

Menurut Arist, peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh semua orangtua, masyarakat, dunia pendidikan dan pemerintah, termasuk alim ulama. Ada apa dengan keluarga dan lingkungan?

Menurutnya, munculnya perilaku dan perbuatan sadis ini tidak berdiri sendiri. Bisa saja karena terinpirasi dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya atau terinpirasi tayangan-tayangan yang tidak edukatif. Sebab dunia anak adalah meniru yang ada disekitarnya.

Menurut Arist, orang tua korban baru melaporkan perkara ini setelah 2 minggu peristiwa ini terjadi karena korban terus menerus diancam oleh pelaku.

Namun karena berdampak pada menurunnya kesehatan korban, dan sudah tidak mampu menahan sakit, akhirnya korban menceritakan kejadian itu kepada ibuya.

Pertiwa yang dialami AU terjadi pada Jumat 29 Maret 2019 lalu di jalan Sulawesi dan Taman Jaya Kalimantan Barat .

Selain dianiaya secara bergerombol, yang cukup mengerikan adalah kemaluan korban dirusak oleh salah satu pelaku dengan memasukkan jari pada vagina korban.

Akibatnya AU mengalami luka fisik, psikologis yang cukup serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Namun dugaan pengrusakan alat viral siswi SMP ditepis oleh Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Husni Ramli.

Husni mengatakan, sejauh ini dari keterangan dari korban maupun orangtua korban, tidak ada yang menyebutkan bahwa ada penganiayaan pada alat vital korban.

“Tidak ada keterangan dari korban terkait adanya penganiayaan di alat vital,” kata Husni.

Informasi yang dihimpun, pengeroyokan ini bermotif asmara. Korban AU memiliki sepupu berinisial PP. Mantan pacar PP pacaran dengan DE. Namun PP masih sering berhubungan dengan mantannya yang kini sudah menjadi pacar DE.

Hal itu membuat DE emosi. Masalah ini pun berlanjut ke media sosial. Puncaknya, DE dan temannya mengeroyok AU, sepupu PP.

 

 

Sumber : Pojoksatu.id