Gimik Politik

0
214

GIMIK (bahasa Inggris: gimmick), merupakan salah satu istilah dalam seni pertunjukan yang berarti, seni gerak tipu tubuh. Tujuannya menciptakan suasana, citra, pengelabuan, efek kejut hingga demi meyakinkan penonton (baca: orang).

Gimik adalah sebuah keniscayaan dalam panggung artis dan entertainment. Nyaris setiap hari, dunia sosialita dan artis Indonesia dijejali gimik demi rating, banjir job hingga eksistensi diri dan sekarang merambah sosial media, khususnya di platform Instagram dan Twitter.

Ironisnya, menjelang pemilu legislatif banyak calon legislator yang alih-alih tawarkan konsep dan paparkan program kedepan, malah lebih memilih ber-gimik ria demi meraup suara masyarakat, menaikan citra mereka dimata masyarakat.

Ada caleg yang dulunya tak pernah bergaul di masyarakat akar rumput tetiba menjadi “orang biasa” agar terlihat merakyat dan “aspiratif”, meskipun saat turun ditengah masyarakat si caleg tetap menjinjing tas branded terbaru atau mengenakan sepatu merk ternama.

Ada caleg yang ber-gimik dengan melakukan agenda sosial yang diseting sedemikian rupa agar muncul suasana haru-biru dan simpati mendalam. Semisal, mendadak muncul ditengah banjir atau menyambangi rumah warga yang kesusahan.

Pola gimmick seperti ini akan semakin jelas terbaca saat dipublikasikan secara besar-besaran melalui melalui sosial media maupun lewat media massa. Semakin telanjang terbaca saat judul yang diberikan teramat bombastis. Misalnya; “ribuan masyarakat merasa terharu dengan bantuan caleg A” atau “isak tangis penuhi suasana RT saat caleg B datang”.

Ada pula caleg yang ber-gimik secara verbal dengan kata atau kalimat yang bernuansa heroik dan bombastis. Seperti; “caleg A mendengarkan sepenuh jiwa” atau “jujur, sehat, merakyat, tepat janji” serta bahasa teks bombastis lainnya.
Lho, kok mengklaim diri sendiri? kok menilai pribadi sendiri sebegitu tinggi? Apakah itu bukan bentukan lain dari sebuah sifat narsis?

Ada juga caleg ber-gimik secara visual. Hampir seluruh caleg lakukan ini, sekurang-kurangnya melalui baliho wajah caleg yang nyaris sempurna. Ya, nyaris sempurna tanpa jerawat, tak ada bekas luka, komedo sirna, wajah hitam jadi putih, pipi gemuk jadi berbentuk, alis tipis disulap menjadi tebal bagai semut berbaris.

Nyaris hampir semua visual baliho caleg ber-gimik seperti ini. Beruntunglah ada aplikasi seperti photoshop dan coreldraw yang membantunya.

Pertanyaannya, apakah melakukan gimik dalam politik salah ? tentu saja tidak salah, sebab politik bukan bicara benar atau salah.
Politik bicara soal etika, visi-misi kedepan, program yang diperjuangan dan khususnya janji yang harus dipenuhi. Bergimik dalam politik tidak masalah, asalkan esensi berpolitik, kampanye yang dilakukan, janji yang diutarakan, sifat merakyat selama ini disosiliasikan tetap ajeg dihadirkan saat terpilih serta betul-betul menjadi corong rakyat bukan menjadi tukang jual nama rakyat.

sebab, rakyat mengingat janji dan kelak menagih bukti.
sebab, rakyat tak suka dibohongi apalagi dikhianati. Sebab, rakyat butuh mereka yang berani bersuara bukan mereka yang hobi menjual kepala. Sebab, doa rakyat ampuh berjimat menembus makrifat.

//salamngopi/
*penulis adalah Pimpinan Redaksi Haluanews.com juga aktif di dunia seni Jambi