Milenial Jangan Mau Hanya Sebagai Komoditas Politik

0
136

Pemilihan Umum (Pemilu) khususnya untuk memilih Calon Legislatif, Calon Presiden dan Wakil Presiden merupakan agenda rutin 5 tahunan di Indonesia. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia terhitung sudah kali keempat (dengan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019). Agenda yang banyak disebut orang sebagai “Pesta Demokrasi” ini merupakan implikasi dari sebuah Negara Demokrasi. Negara yang dimandatkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Sebuah pesta megah tersebut, lebih cocok saya namakan sebagai sebuah “Pagelaran”, dan calon Legislatif, dan Presiden – Wakil Presiden sebagai “Lakon”. “Pagelaran” yang mempertontonkan semua hal manis, semua hal yang menggiurkan, dan semua hal yang mengasyikan. Setiap “Lakon” berlomba-lomba untuk berpihak pada rakyat, berlomba untuk seakan-akan ada di garda depan untuk wong cilik. Setelah “Pagelaran” selesai, semua calon akan lupa dengan setiap kata-kata manis yang dikeluarkan.

Ratusan juta pasang mata rakyat Indonesia tertuju pada pesta besar tersebut. Ada yang sudah berulang kali menyaksikan dan ada pula yang baru akan menyaksikannya. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak yang menyelenggarakannya, menyebutkan bahwa ada 185.732.093 pemilih dalam negeri dan 2.049.790 pemilih luar negeri. Oleh karena itu, ada sekitar 188 juta total pemilih yang telah ditetapkan sebagai Daftar Pemilih Tetap. Menurut data yang disiarkan di media Tirto.id, bahwa ada sekitar 23 persen (sekitar 42 juta) Milenialis yang berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Tahun 2019.

Badan Pusat Statistik atau yang biasa dikenal dengan BPS merilis peta sebaran pemilih yang dikelompokkan menurut kategori umur. Hasilnya kurang lebih ada 23,95 persen dari populasi penduduk Indonesia yang mencapai kisaran 265 juta jiwa (Hasil Proyeksi BPS). Hasil yang tidak jauh berbeda dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ditetapkan oleh KPU.

Melihat potensi kuantitas Milenialis yang berpartisipasi cukup besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun, maka banyak bahkan hampir semua partai politik baik yang berbasis agama maupun tidak untuk memanfaatkan peluang tersebut. Partai politik maupun tim pemenangan banyak yang mendekati Milenialis dengan berbagai macam metode dari yang menggunakan gaya kampanye milenial, berbagai kegiatan yang dilakukan untuk Milenialis, sampai politik transaksional pun kemungkinan dijalankan. Semua cara atau metode tersebut digunakan tidak lain untuk menarik suara Milenialis yang dikenal sebagai kaum yang menderita labilitas politik.

Beberapa hal yang menjadi perhatian bersama terkhusus bagi Milenialis agar tidak menjadi komoditas politik di tahun 2019 ini.

Kesatu, jangan anti terhadap politik.

Banyak Milenialis yang merasa anti terhadap politik atau biasa dikenal dengan istilah “Alergi Politik”. Sikap anti atau alergi tersebut membuat Milenialis menjadi buta akan perkembangan pelaksanaan Pemilu Tahun 2019 ini.

Kedua, pahami visi dan misi setiap calon.

Setelah mengikuti perkembangan dari pelaksanaan Pemilu tersebut, Milenialis harus tahu dan paham apa visi dan misi serta program yang dicanangkan setiap calon. Sandingkan dengan realitas yang ada di masyarakat dan yang dibutuhkan oleh rakyat.

Ketiga, cari tahu track record atau rekam jejak dari setiap calon.

Penting bagi pemilih terkhusus Milenialis untuk tahu rekam jejak dari calon. Hal ini penting agar kita tidak hanya terbuai oleh janji manis dan bualan dari calon tersebut. Rekam jejak ini meliputi kehidupan pribadi setiap calon, kehidupan politiknya, sampai pada rekam jejak setiap partai yang menjadi pendukung. Gampang bagi Milenialis untuk mengetahui rekam jejak tersebut, telebih kita yang sudah hidup dengan internet.

Keempat, ikut berpartisipasi untuk mencegah dan memberantas politik transaksional dan politik SARA.

Sangat perlu bagi kita untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan ini, tolak politik uang dan SARA. Tentukan pilihan berdasarkan visi, misi, dan program serta rekam jejaknya bukan karena uang terlebih SARA.

Oleh karena itu, dari beberapa poin diatas, saya mengajak untuk kita Milenialis baik yang sudah pernah berpartisipasi maupun yang menjadi pemilih pemula untuk mencegah dan menolak diri kita menjadi komoditas politik dalam Pemilu 2019. Wujudkan pemilu yang benar-benar bersih