PUPR Bangun Jalan Akses ke Muaro Sabak, Ini Dukungan Ditjen Bina Marga

0
90

JAMBI – Komisi V DPR RI melakukan Kunjungan Kerja (kunker) ke Jambi pada Kamis (18/10). Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR yang diwakili oleh Kepala Sub Direktorat Standar dan Pedoman. Direktorat Pembangunan Jalan, Reno Ginto dan Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IV Jambi, Junaidi turut meninjau pembangunan jalan akses pelabuhan Ujung Jabung Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Jalan akses pelabuhan Ujung Jabung kurang lebih 155 Km dari Jambi, dengan terdiri dari Jambi ke Muara Sabak, itu status jalan nasional dengan panjang 60 Km.

Sedangkan Muara Sabak ke Desa Simpang jalan provinsi, dengan panjang kurang lebih 55 Km, dan dari Desa Simpang ke Ujung Jabung panjang 42 Km jalan non status.

“Kami dahulukan perbaiki Muara Sabak dulu. Dari yang 60 Km, masih 16 Km kondisi rusak. Sisanya mau di 2019 diselesaikan. Kalau 16 Km itu sudah di tangani, otomatis ke Muara Sabak nya sudah bagus. Tadi saya sudah bilang ke pak sekda, itu kan habis Km 60 itu kan masuk jalan provinsi. Jadi dari muara sabak ke desa simpang itu 55 Km, nah kita minta supaya provinsi yang tangani, jangan dibebankan APBN. Kalau sisanya desa simpang, ke ujung jabung jalan non status bisa APBN tangani.” kata Junaidi.

Lebih lanjut, dirinya juga menyampaikan bahwa biaya perkiraan untuk Desa Simpang, Ke Tanjung Jabung yang ditambah ada satu jembatan yang panjangnya digabungakan sekitar 240 Meter, itu mencapai Rp. 1,4 Triliun.

“Perkiraan biaya untuk desa simpang ke ujung jabung 800M ditambah ada satu jembatan bentang panjang dengan panjang 647meter itu biayanya sudah 240M lebih kurang 1,4 T.” tambahnya.

Selain itu, disampaikannya juga bahwa pembangunan jalan akses pelabuhan Ujung Jabung terkendala masalah, dikarenakan tanah gambut.

Ditjen Bina Marga melalui BPJN IV Jambi, menggunakan teknologi Pusat Penelitian, dan Pengembangan Jalan. Serta Jembatan (PUSJATAN) yaitu Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP), untuk menangani permasalahan tanah gambut.

“Itu harusnya kalau lahan gambut itu, seharusnya kita pakai pile slab pakai tiang pancang itu (mini pile). Kalau kita pakai mini pile, kan biayanya 100M per kilo. Mangkanya kita coba pakai teknologi pusjatan mortar busa perkilonya 16M.” jelasnya.

Sementara itu, teknologi yang sudah di terapkan di Indonesia, ini menggunakan timbunan ringan mortar busa, dengan struktur baja bergelombang. Keunggulan dari teknologi ini, diantaranya dapat menghemat dana hingga 60-70 persen, dan dapat menghemat waktu pengerjaan hingga 50 persen, jka dibandingkan dengan konstruksi konvensional. Selain itu juga ramah lingkungan, karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama bahan alam. (*)