Setelah Puluhan Tahun Tak Ada Protes, 3 Gereja Hari Ini Disegel

0
2801

JAMBI – Terkait 3 gereja yang di segel oleh pemerintah kota Jambi, yang diduga tidak memiliki izin. Pendeta gereja Metodis Indonesia Kanaan Jambi, Ojahan Tampu Bolon, STH MA menyampaikan setelah berpuluh-puluh tahun didirikan, tidak pernah ada masyarakat yang protes. Hal ini disampaikannya saat ditemui Dinamikajambi.com di rumahnya, Kamis (27/9/18).

Pendeta itu mengatakan, bahwa alasan penyegelan ini yaitu supaya menjaga demo yang sudah direncanakan oleh masyarakat. Karena mereka sudah membuat surat kepada pemerintah, dan akan demo besok dengan membawa pasukan 1000 orang.

“Mendengar informasi ini, pemerintah dengan tokoh masyarakat, mengambil suatu keputusan melalui sebuah rapat kemarin. Jadi dari pada masyarakkat dengan jemaat nanti benturan, kita putuskan sekarang gereja ini kita segel sementara.” kata pendeta itu.

Mengenai izin gereja tersebut, Ojahan juga menyampaikan masih dalam pengurusan. Akan tetapi, menurutnya setiap gereja di Indonesia ini banyak yang tidak memiliki izin. Namun tidak semua masyarakat yang terlalu kepo terhadap agama. Karena baginya sesama mahkluk yang beragama itu sudah diingatkan, untuk saling menghormati dan menghargai.

“Sebenarnya bukan gereja yang tidak mau mengurus surat izin, tai surat izin yang diurus oleh gereja, sulit ketemu. Yaitu peraturan 2 menteri, 60 dan 90, kesulitan kita dalam 60 itu. Dan gereja ini sedang dalam pengurusan.” jelasnya.

Selain itu, saat ditanyakan apakah selama ini ada masyarakat yang protes dengan adanya gereja tersebut. Pendeta paruh baya itu mengatakan tidak pernah. Dirinya menjelaskan bahwa sudah puluhan tahun berdiri, belum pernah mendapat teguran dari masyakat.

“Coba bapak lihat tempat ini, sebenarnya adalah tempat yang sepi. Apalagi dulu ketika ini baru dibangun, rumah-rumah ini belum ada. Masih hutan semua. Dan berdirinya gereja dengan rumah ini, dulu adalah persetujuan masyarakat, Rt, dan tokoh-tokoh lainnya.” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ojahan juga menceritakan bahwa dulu waktu gereja masih dirumah-rumah, dan lokasinya dipinggir jalan. Memang masyarakat demo. “Namun setelah demo mereka bilang, kalian disanalah, ditunjuklah disini. Itu atas kesepakatan Rt, tokoh masyarakat dan lurah, makanya gereja ini hadir disini.” paparnya.

Namun, pendeta itu sangat mesmyanyangkan. Setelah beberapa puluh tahun berdiri dan tidak pernah adanya teguran. Mengapa hari ini baru mereka menuntut. “Tiba-tiba masyarakat membuat surat, bahwa mereka akan menutup gereja yang ada di daerah ini,” pungkasnya. (Nrs).