PETANI Merangin Tolak Kriminalisasi Petani di Riau

Daerah

MERANGIN – Wakil Sekretaris II DPN Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia (PETANI), Beni Ari Feriadi menegaskan bahwa seharusnya aparat Kepolisian Resort Bengkalis bukan memanggil 3 orang PETANI. Melainkan aparat harusnya menangkap pelaku kebakaran hutan yang sudah merusak sekat-sekat kanal milik para anggota Lab.KPAK PETANI Unit Riau tersebut.

Bilang Ari, para petani dari anggota dari Lab. KPAK PETANI Unit Riau yaitu Rasikun, Safitriadi (alias Adi Gofer) dan Sumadi (alias Gurun) pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2016 di pos polisi Desa Bukit Krikil dalam kondisi sebagai saksi dari kebakaran hutan ini sesuai arahan dari Ketua Umum (Ketum) PETANI, Lab. KPAK PETANI ini wajib menerapkan PETANI yang mandiri dengan membangun PERTANIAN berkelanjutan, kearifan lokal berwawasan lingkungan.

“Sangat kejam sekali para operator dan oknum dari mafia ilegal loging ini menghancurkan dan merusak sekat-sekat kanal yang dibuat oleh kawan-kawan PETANI ini hanya untuk membawa kayu ilegal loging hasil pencuriannya,” kecamnya.

Sebagai manusia yang memproduksi dan bercocok tanam untuk pangan ini, sudah selayaknya bahwa profesi PETANI itu harus dihargai dan dihormati. Mengulang pernyataan Ketum PETANI, bahwa saat ini PETANI mencoba untuk mewujudkan Swasembada Pangan Nasional Absolut dalam 5 tahun ke depan, dan mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia (World Food Bank) dalam 10 tahun mendatang dan itu merupakan Visi PETANI dengan penjabaran 8 Misi gerak PETANI.

“Jadi bagaimana kami merekrut kaum-kaum muda bertani dan bangga jadi PETANI jika jadi PETANI kami malah dikriminalisasi,” tuturnya.

“Coba kita pikirkan, anggota-anggota PETANI Riau yang bagaimana sedang berproses produksi pangan, tetapi disatu sisi berjuang melawan kepungan asap akibat ulah oknum-oknum aparat negara yang melakukan ilegal loging dan pengrusakan sekat-sekar kanal yang dibuat oleh para PETANI,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.